Game developer sulit mengakses permodalan

game-developer-sulit-mengakses-permodalan

RamahNewsBerita-Ketua Umum Asosiasi Game Indonesia (AGI) Narendra Wicaksono mengatakan, salah satu kendala besar bagi banyak game developer di Indonesia adalah soal pendanaan. Dengan adanya pendanaan yang lebih besar, maka bukan suatu hal yang mustahil tercipta game yang mumpuni.

Sehingga, dia mengapresiasi langkah pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf) memberikan pendanaan bagi game developer. Pemerintah melalui program Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) memberikan bantuan pendanaan senilai total Rp 10,8 miliar yang akan diberikan untuk setiap pelaku usaha sebesar Rp 200 juta di dua sektor usaha, yakni kuliner serta aplikasi digital dan game developer.

Sejauh ini, kata dia, soal pendanaan dalam pembuatan game dilakukan secara mandiri oleh masing-masing developer. Sementara, akses untuk ke dunia perbankan bagi mereka tak mudah. Pasalnya, apa yang dibuat oleh game developer biasanya bentuknya intangible. Sehingga sulit untuk mendapaatkan pendanaan umum seperti dari bank.

“Besar harapan kami dari AGI pendanaan ini dapat dimaksimalkan oleh teman-teman game developer untuk mengembangkan karya yang bisa mengharumkan Indonesia di kancah nasional dan internasional. Dalam kesempatan ini juga saya ingin memberikan apresiasi yang sangat tinggi juga untuk Bekraf yang telah meluncurkan program BIP,” jelasnya kepada Merdeka.com, Jumat (14/7).

Terpisah, menurut Sekjen AGI, Arief Widhiyasa, industri game merupakan industri yang menantang, terutama soal pendanaan. Masalahnya, jangankan perbankan untuk mengucurkan pendanaan ke game developer, venture capital (VC) pun pikir-pikir untuk mendanai industri game ini.

Hal ini tak lepas dari ketidakpastian game yang dibuat oleh developer bakal mencuri perhatian. Dia menyontohkan, misalnya saja dalam satu perusahaan membuat sepuluh game, namun tak semuanya bakal naik daun. Bisa saja, sembilan dari sepuluh game itu tak laris di pasaran. Artinya, hanya satu game saja yang sukses.

“Game industri cukup menantang juga, karena interest VC terhadap gama industry dibanding e-commerce atau bidang-bidang tech industry lainnya masih lebih kecil. Ini karena produk game itu juga hit driven. Sedangkan VC juga mengincar business yang hit dari misalnya 10 investasinya, sehingga kalau invest di company yang hit-driven, tentunya resikonya makin besar,” jelasnya.

Founder dari Agate Studio itu juga mengatakan, biaya untuk pembuatan game sendiri pun berbeda-beda, sulit untuk dibuat rata-rata. Investasi yang dikeluarkannya itu, tergantung dari seberapa besar size game yang diciptakan.

“Kalau AAA games itu bisa USD 50-100 juta USD. Kemudian game midcore itu bisa USD 100 ribu – 5 juta. Nah, kalau game yang casual itu mungkin masih bisa di kisaran USD 10 ribu -500 ribu,” terangnya.

Maka itu, dia pun menyambut baik langkah BeKraf melalui program BIP untuk membantu tumbuhnya industri game di tanah air.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s